Jumat, 16 Januari 2009

Behind the Window




Orang di balik jendela

Itukah aku? Diriku bertanya-tanya..

Akhir-akhir ini hujan jatuh terus.

Kalau aku sedang malas melakukan apa pun, aku hanya bisa terdiam memandangi hujan dari balik jendela. Bagaimana tampaknya butiran itu meluncur turun dari langit. Kemudian terpecah ketika sampai ke tanah. Terhempas jatuh begitu saja. Membuatku penasaran, apakah butiran itu dibuang? Seperti Adam dan Hawa yang dibuang dari surga gara-gara melanggar perintah Allah. Apakah butiran itu merasa terbuang? Oh, apakah butiran itu merasa bahagia karena kemungkinan besar kedatangan mereka membawa berkah bagi para petani, mereka yang mengharapkan jatuhnya hujan agar bisa memanen sawahnya. Atau mereka merasa sedih karena kedatangan mereka hanya menyebabkan penduduk mengungsi dari rumahnya yang kebanjiran?

Pertanyaan-pertanyaan bodoh, tentu.

Memangnya otakku bisa berpikir lebih dari itu? Nope.

Aku ini, hanya makhluk standar yang berada nyaris dibatas garis terbawah rata-rata standar. Oh, ya, menyedihkan. Aku selalu, selalu, selalu, jadi pengamat, dan bukan bintangnya. Aku selalu, selalu, selalu, jadi pelengkap daripada orang yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Aku tidak pernah menjadi orang penting, atau setidaknya aku berpikir begitu. Aku tersisih, dan aku bukan bagian dari kelompok. Sudah kubilang aku ini hanya pengamat, kan? Aku bukan bintang.

Sebagai pengamat, aku meletakkan diriku sendiri dibalik jendela. Apakah analogiku tepat? You think. Entahlah, kapasitas otakku tak membiarkanku mencerna pemikiran cerdas dengan dasar yang jelas. Aku hanya ‘merasa’ aku ‘seperti’ ini alih-alih memberi argumen cerdas yang menyuguhkan analogi sepadan. Yah, sudah kubilang aku hanya orang rata-rata. No, kurasa aku orang yang berada di garis batas antara rata-rata dan di bawah rata-rata. Well, well, aku tak malu. ini lebih baik daripada aku berpura-pura pintar yang hanya akan membuatku terlihat seperti badut sok tahu dan bermulut besar.

Oke, kembali ke topik.

Aku selalu, selalu, selalu berada di balik jendela. Akhir-akhir ini, setelah aku termenung—bengong—menatap hujan dari balik jendela, aku menyadari bahwa aku sendiri yang memilih menjadi pengamat dan bukannya seorang bintang. Aku sendiri yang memilih untuk duduk sendiri alih-alih menggerombol bersama sekumpulan gadis-gadis yang doyan mengikik-bergosip-seperti-gadis-normal. Aku sendiri yang memilih menghindari diskusi, organisasi, kegiatan ekskul atau apa pun itu. Aku sendiri yang lebih suka tiduran dirumah daripada menghadiri festival band atau acara-acara yang mereka sebut sebagai masa-muda-anak-remaja. Aku sendiri yang lebih suka ‘mengamati’ anak-anak lain bersenang-senang daripada ‘ikutan’ bersenang-senang.

Aku terlalu nyaman dengan ‘kesendirian’

Aku terlalu nyaman ‘mengamati’

Aku terlalu nyaman jauh dari ‘radar’

Aku terlalu nyaman dengan ‘duniaku sendiri’

Seakan aku menempelkan tulisan besar-besar “AKU BISA HIDUP SENDIRI, KAU TAK PERLU REPOT-REPOT MENDEKATI AKU” di dahiku. Oh, seperti aku tidak sadar dengan ‘plang’ itu. Aku sendiri yang memasangnya dengan kesadaran penuh.

Suatu hari, salah seorang dari mereka datang dan berkata, “Hei, kita-kita mau nonton futsal, kamu mau ikut?” aku hanya tersenyum dan berkata tidak, mereka dengan wajah aku-sudah-tahu-kau-akan-bilang-begitu itu segera angkat tas dan pergi meninggalkanku. Mereka tahu aku tidak ingin didekati. Dan tidak ada gunanya mendekatiku karena aku tidak akan mengacuhkan mereka. Ini menyenangkan, kadang-kadang, saat aku benar-benar tidak ingin didekati atau saat aku benar-benar malas berhubungan dengan siapa pun. Tapi, aku kadang-kadang juga ingin didekati.

Well, ini mirip sekali dengan asas Le Chatelier dalam Kimia: Reaksi = -Aksi. Jika kau melakukan suatu tindakan aksi, maka yang terjadi justru reaksi yang cenderung mengurangi pengaruh aksi tersebut. Bingung? Oke, simpelnya begini. Aku dengan senang hati, mengatakan tidak ingin ikut nonton futsal (aksi), yang harusnya mereka menerima jawabanku lalu pergi (reaksi). Itu adalah hasil yang sepadan. Namun, dengan asas Le Chatelier, yang (seharusnya) terjadi, mereka memaksa dan merayuku sehingga keinginanku untuk tidak menonton futsal (aksi) jadi goyah (-aksi). Dan pada akhirnya aku menonton futsal itu karena aksiku berkurang (digoyahkan). Reaksi = -Aksi.

Apakah terdengar simpel untukmu? Jika tidak, jangan salahkan dirimu sendiri, itu masalahku karena tidak bisa menjelaskannya dengan sederhana dan membuatmu bingung. Sudah kubilang aku bukan orang yang cerdas.

Jika aku mau, aku bisa dengan mudah menjadi bintang. Jika mau, semua orang bisa menjadi bintang. Ini tergantung pilihan. Dan dengan bodohnya—seperti otakku yang rata-rata ini—aku memilih menjadi pengamat. Sebagai pengamat Aku bahkan tidak menempatkan diriku sebagai orang dibalik layar, aku adalah penonton, oh, menyedihkannya. Well, tidak menyedihkan jika ‘sesekali’ kau jadi penonton. Tapi akan menyedihkan jika kau ‘selalu’ jadi penonton.

Aku bukannya ‘selalu’ jadi penonton. Dulu, dulu sekali, ketika pikiran egoisku dan rasa narsisme masih meluapkan hormon dengan volume penuh ke dalam otak dan setiap denyut adrenalin masa kecilku, aku selalu jadi bintang. Aku selalu, selalu jadi bintang dimana pun aku berada. Orang tuaku tak hanya membuatku merasa begitu, aku sendiri yang mewujudkan hal itu. Aku memilih menjadi bintang. Tapi kenapa sekarang aku berbeda?

Aku tak tahu.

Aku hanya memilihnya karena menurutku itu nyaman. Dan perlahan, sosokku mengabur menjadi sosok rata-rata. Sosok yang tidak terlihat jika terjebak dalam arus massa. Sosok yang tidak menonjol karena pilihan hidupnya adalah menjadi kaum mayoritas. Aku tidak bisa menghentikan diriku sendiri menjadi kaum rata-rata karena aku menyukainya. Aku sendirian, aku kaum rata-rata, aku golongan mayoritas, aku mengabur, aku tidak menonjol, aku tidak terlihat, oh, aku menyukainya.

So, why is so serious?

Oh, aku tahu, aku tidak punya kehidupan.

Dan hujan masih tidak menampakkan tanda ingin berhenti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar