
Tak terhitung berapa banyak orang yang sepakat bahwa aku ini manja
Yah, gadis manja. Daddy’s-and-Mom’s little girl. That’s me, hello, nice to meet you.
Hohoho.. aku tak ingat sejak kapan aku semanja ini. Well, sejauh yang bisa aku ingat, aku sudah manja dari dulu. Pernyataan yang tepat sih, aku dimanja. Dan aku tak bisa lepas dari ‘kenyamanan’ yang ditawarkan orang tuaku bahkan ketika mereka berteriak di depan mukaku untuk mengatakan satu kata terdiri dari 9 huruf, “Dewasalah!”
Oh, aku tak tahu. Aku tak tahu lagi. Berapa banyak orang yang mencibir dan memandangku sebagai “gadis manja”? Banyak, banyak sekali. Semua orang—nyaris yang aku kenal, berkata bahwa aku manja. Jika mereka menganggapku “tidak manja”, jelas mereka belum kenal aku. Well, sebenarnya, yang mengataiku “gadis manja” adalah mereka yang mengenalku sejak kecil—keluarga besar dan sebagian besar tetangga. Aku diremehkan dan disindir karenanya. Oh, aku tidak peduli. Sejak kapan aku memedulikan hal-hal semacam itu, justru jauh di dalam, aku yang meremehkan mereka. Mereka menghakimiku sebelum mengenalku. Yah, pernyataan klasik karena toh kenyataannya aku memang manja, jadi pepatah itu tidak berlaku untukku.
Orang-orang yang tidak mengenalku—dan melihat dari luar saja—akan menganggapku dewasa. Itu salah satu keuntungan dari ‘menyendiri’. Mereka berpikir aku punya atmosfir yang berbeda, atmosfir dewasa karena aku tidak seperti gadis-gadis mengikik-menggosip-sibuk-berdandan-pacaran-dan-shopping di kelas. Aku menyingkir, duduk diam, tenang, dan terlihat seperti melamun. Aku-memang-melamun. Tapi, entah bagaimana mereka berpikir aku ‘dewasa’!! Itu membuatku cukup shock. Hanya karena penampilan kalemku, bukan berarti aku dewasa, kan? Tak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa ‘kesan dewasa’ membawaku ke berbagai masalah.
Mereka pikir karena aku ‘terlihat dewasa’ aku bisa diandalkan. SALAH BESAR.
Mereka pikir karena aku ‘terlihat dewasa dan bisa diandalkan’ maka aku mau mengurusi tetek bengek kelas. SALAH BESAR.
Mereka pikir karena aku ‘terlihat seperti tipe pengurus dan pedulian’ aku mau direpoti macam-macam hal seperti mengurus mereka. SALAH BESAR.
Mereka pikir karena ketiga hal diatas itu, maka aku ini anak pintar. SALAH BESAR.
Mereka harus tahu aku tidak mencampuri masalah mereka itu mengindikasikan bahwa aku tidak ingin mereka ikut campur masalahku. Mereka harus tahu aku tidak suka mengurusi orang lain dan aku tidak pedulian karena aku Manja. Anak manja lebih suka diurusi, kurasa itu alasan mengapa mereka disebut ‘manja’, bukan? Aku bisa saja jadi pintar kalau aku mau, tapi sayang sekali, aku lebih suka jadi pengamat daripada jadi bintang. Lalu, saat semua mulai berpikir aku gadis pintar, aku mulai berlaku seperti gadis bodoh—tidak sulit karena otakku berkapasitas rata-rata. Gadis bodoh identik dengan tidak bisa diandalkan, yang mana hal itu memang keinginanku. Menjadi tidak bisa diandalkan, sehingga mereka berhenti merecokiku dengan tetek bengek urusan kelas. Demi Tuhan, apa yang mereka harapkan dari gadis manja untuk mengurusi mereka?
Well, well, sampai sekarang mereka masih menganggapku ‘dewasa’, tapi mereka cukup bijak untuk menyadari bahwa aku ‘tidak mau direpotkan’ dengan segala macam hal tetek-bengek-buang-waktuku-dan-tidak-penting-bagiku itu. Bukannya mereka tidak pernah mencoba. Berkali-kali mereka mencoba. Mencoba menyerahkan tugas yang mereka pikir akan kuselesaikan dengan baik. Tapi tentu saja, aku tidak sebodoh itu untuk mau diperalat. Dengan sengaja, aku langsung menolak secara tegas. Seperti kucing liar diberi makan, mereka tidak akan berhenti mendatangimu untuk meminta makanan, bahkan lebih buruk, kucing itu akan mengikutimu pulang dan berusaha menghuni rumahmu. Sama saja konsepnya, sekali kau mengerjakan tugas dengan baik, maka mereka hanya akan menyerahkan tugas-tugas lainnya kepadamu. Mengerikan.
Well, dengan menolak tegas tidak berarti mereka berhenti berusaha, mereka sengaja menaruh tugasnya ditangamu sehingga kau tidak enak untuk menolak. Dan begitulah, aku tidak enak menolak. Kuterima namun kukerjakan serampangan, seringkali menggerutu mengapa-harus-aku-yang-mengerjakannya di depan mereka, dan meskipun tugasnya selesai, hasilnya tidak pernah ‘memuaskan’. Aku tahu itu terdengar sangat kekanak-kanakkan dan tidak akan menyelesaikan masalah, tapi hei, sudah kukatakan aku ini anak manja. Apa yang kau harapkan dari anak manja, eh?
Yang pasti, aku ogah direcoki hal-hal yang meskipun penting tapi membuang waktuku, dan demi kesejahteraan bersama. That’s so not worth it. Leave me alone, then I’ll leave you fine with your life, thanks.
Bukan hanya itu saja masalah yang timbul karena aku manja dan bersikap seperti nona besar. Banyak yang gusar dengan sikap manjaku, salah satunya orang tuaku. Mereka tak henti-hentinya berpikir mengapa bisa memiliki anak semanja-tidakpedulian-dan-kurangpengertian seperti diriku ini. Aku hanya tertawa dan menganggapnya gurauan sambil lalu. Berusaha menyembunyikan tawa miris jauh-jauh di dalam hati. Kau pikir aku tidak memikirkannya? Well, aku sadar aku ini egosentris dan manjanya setengah idup. Aku tahu aku menyusahkan banyak orang—terutama orang terdekat—dan membuat mereka gemas setengah mati hanya dengan melihatku dan mendengar desas-desus betapa manjanya aku. Tapi aku sama sekali tidak ingin berubah. Aku ingin tetap manja, meringkuk dalam-dalam dibalik sayap orang tua dan apa yang mereka namakan sebagai cinta-kasih-sayang.
Mungkin ini lebih terdengar sebagai alasan, tapi, kurasa kalian perlu tahu pemikiranku sebelum keburu menghakimiku;
Banyak sekali contoh anak broken home. Ratusan anak menginginkan kasih sayang dan perhatian orang tuanya. Ribuan anak tidak pernah memiliki orang tua. Mereka haus kasih sayang, mereka butuh orang yang mencintainya. Mereka butuh diakui. Jika melihat hal itu, jika merasakannya dari sudut pandang mereka, jelas, aku tahu betapa pentingnya, betapa berharganya kasih sayang orang tua. Tidak pernahkah kau berpikir bahwa mungkin saja besok maut memisahkanmu dengan orang tuamu? Bisakah kau membayangkan betapa menyesalnya kau karena belum sempat memeluk mereka. Kelak, bertahun-tahun sesudahnya kau menyesal karena tidak pernah meminta mereka membuatkanmu segelas susu di malam hari, tidak pernah meminta mereka menyuapimu walau kau sudah bukan anak kecil lagi. Bisakah kau? Aku tidak bisa.
Aku hidup dalam bayangan itu setiap hari. Kendati orangtua kita berumur panjang—amin—kau tetap akan dilanda sesal dan iri, bertanya-tanya mengapa dulu kau tidak pernah bisa mengobrol baik-baik bersama mereka hanya dengan ditemani segelas teh hangat. Mengenang, mengapa tidak pernah bisa berbaring disamping mereka sambil mendengarkan mereka bercerita mengenai kisah masa muda mereka karena kau terlalu sibuk belajar atau sibuk mengejar karir. Dan ketika kau hidup mapan, berkeluarga, kau akan menyesalinya. Kau akan menyadari, kau jarang meluangkan waktu bersama mereka karena terlalu sibuk meraih cita-cita. Mungkin kau sukses, tapi kau kehilangan waktu dan saat berharga bersama mereka.
Mungkin kau sukses dan merasa telah meluangkan banyak waktu untuk mereka dan bahagia karenanya. Well, kau beruntung, tapi tidak semua orang cukup beruntung.
Aku manja, iya. Aku sengaja memanfaatkan mereka. Meski bisa berangkat sendiri, aku memanfaatkan rasa sayang Ayah dan membiarkannya mengantarku berangkat sekolah. Meski bisa mencari makan sendiri, aku membiarkan Ibu mengambilkan makanan untukku. Aku tidak pernah menjadi pemilih. Aku tidak pernah meminta dibelikan macam-macam. Tidak pernah meributkan mau makan nasi lauk tempe atau daging panggang. Tidak pernah meributkan mau motor baru atau jalan kaki. Tidak pernah meributkan kaus-usang-lama-dipake dan minta dibelikan yang baru. Mereka semua yang menawariku, dan aku hanya mengiyakan agar mereka senang dan memanfaatkan kasih sayang mereka. Apa itu salah? Apa itu manja?
Oke, sekarang definisikan kata manja.
Kurasa semua anak dari keluarga normal juga mendapat perlakuan yang sama sepertiku. Orang tuaku hanya senang menceritakan—dengan dilebih-lebihkan, tentu—betapa mereka suka menghujaniku dengan perhatian—yang sebenarnya normal dan terjadi anak manapun—kepada orang lain. Mereka—orang lain—hanya menangkap tanda yang salah dan mengartikan definisi cinta-kasih-sayang orang tuaku sebagai deklarasi bahwa aku anak manja. Dan kenyataan bahwa aku sulit bersosialisasi dengan masyarakat serta lebih memilih berada dirumah seakan mengukuhkanku sebagai nona-manja-sok-kaya-sok-penting dimata mereka. Dasar orang-orang bodoh. Mereka hanya mau melihat apa yang ingin mereka lihat. Mereka menghakimiku tanpa mengenalku dan itu membuatku sadar bahwa mereka picik.
Mana mungkin ayahku berkata, “Aku sengaja membelikan putriku handphone karena aku punya uang.” Secara blak-blakkan. Well, memang aku meminta, tapi aku tidak memaksa. Aku meminta karena berhasil memenuhi perjanjian/kesepakatan. Semacam motivasi untuk membuatku lebih maju. Dan ketika aku berhasil, aku berhak mendapatkan hadiahku, apa itu salah? Nope, ini kesepakatan. Kalau aku tidak salah, mereka juga melakukan hal yang sama kepada anak-anak-bodoh-mereka. Hanya karena aku-berprestasi-sedikit-lebih-baik, aku menutup diri, dan orangtuaku menyebutku manja (dalam ungkapan bermajas litotes) mereka langsung menghakimiku.
Aku tidak pernah menghakimi mereka. Aku bahkan tidak mau repot-repot mengenal mereka. Mungkin, mungkin.. jika aku mau sedikit bersosialisai dan berbaur dengan mereka, mereka akan tahu siapa aku yang sebenarnya. Bahwa aku benar-benar gadis manja karena mereka mengenalku dan tahu aku manja. Dan bukannya berpersepsi lalu main hakim sendiri.
Bukan salahku kalau aku memanfaatkan orang tuaku dan mereka tidak. Bukan salahku kalau aku hanya mau disayang dan mereka tidak. Salahku kalau aku sulit bersosialisasi, tapi tak perlu menghakimiku. Well, aku mengaku aku ini egois, aku manja, dan aku tidak pedulian.
Lalu.. ? lalu apa?
Apakah aku pernah melemparimu dengan sepatu bekas tahi anjing? Enggak, kan? Lebih baik kalau kita tidak saling mengganggu. Karena, jujur saja, meski aku tidak peduli, aku cukup terganggu dengan sindiran maupun sarkasme mengenai perilaku-manjaku ketika kami bertemu dalam acara terbuka. Oh, demi Tuhan, aku bahkan tak pernah bertemu denganmu sebelumnya, jadi tidak mungkin aku pernah meludahimu sebelumnya, tapi apakah penting sekali untuk menyindirku di depan banyak orang, eh? Sulitkah bersikap sopan dirumahku sendiri, demi Tuhan, kamu itu tamu. Keterlaluan, ck ck. Siapa yang merajuk sekarang? Irikah kamu? Atau kamu merasa perilakuku ini termaksud penyimpangan sosial karena ‘bermanja-ria pada orang tuaku sendiri’ dan kamu merasa dirimu ini pahlawan dengan ‘sok’ menceramahiku mengenai ‘apa yang baik’ lewat sarkasme dan sindiran. Huh, lucu sekali teori itu. Tapi maaf-maaf saja ya, kau tidak memberiku pilihan selain memandangmu sebagai orang-kurang-kasih-sayang yang iri pada gadis—yang menurutmu.. atau lebih tepatnya persepsi orang lain—manja?
Gencatan senjata, oke. Mulailah dengan berhenti berprasangka pada orang lain dan urusilah urusanmu sendiri. Terima kasih.
Salam manja,
Putri Termanja Sedunia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar