Kamis, 15 Januari 2009

Rainy




Hujan lagi..


Walau aku suka sekali hujan, tapi ini mulai terasa membosankan.

Kau tahu, aku suka mencium bau hujan ketika itu pertama kali turun. Kemudian aku suka mencium harum rumput segar setelah hujan berhenti. Iya, aku suka hal-hal klise semacam itu. Tapi, musim penghujan ini mulai menyiksa. Matahari yang seharusnya tampak pukul 6 baru tampak pukul 8. Itu pun masih sejuk. Untukku yang terbiasa diterpa suhu 42˚ C sepanjang tahun, keadaan ini benar-benar sangat tidak nyaman. Benar-benar sangat tidak nyaman.

Dengan datangnya musim hujan ini, dan awan kelabu yang gemar berparade setiap ada kesempatan, membuat suasana jadi muram. Oh, mungkin ini hanya perasaanku saja. Tapi aku benar-benar merasa muram. Suasana ini—yang terasa seperti musim gugur—membawa atmosfir sendu, syahdu, kelabu.. Beberapa orang yang sentimentil akan menganggapnya romantis. Entahlah, aku tak tahu bedanya. Yang pasti keadaan ini membuatku mengantuk.

Sekolah mulai menyuruh kami masuk siang. Membuatku dapat menikmati detik-detik kemunculan matahari. Kebiasaanku yang baru, setelah mandi, sebelum memakai seragam, aku membiarkan tubuhku di terpa sinar matahari pagi yang menembus masuk melewati sela-sela serat kaca jendela kamar. Berbaring—terebah—diatas kasur busa, hangat suam-suam kuku terasa nyaman. Kadang aku memejamkan mata sejenak dan berkata, “Oh, nyamannya.” Aku tidak ingin terbangun untuk menghadapi hidup. Aku ingin rebahan terus seperti itu hingga aku kepayahan, atau dilanda kebosanan luar biasa. Lihat betapa buruknya efek mendung ini, membuatku semakin malas.

Meski aku sering menggerutu dan mengeluhkan betapa panasnya kota ini, aku toh tak juga bisa berhenti menggerutu ketika suhu udara menurun tanda tahun memasuki musim penghujan. Dulu, ketika panas melanda kota sepanjang tahun, aku merutuki sekolahku yang tidak menganggarkan AC untuk setiap kelas. Namun sekarang aku merutuki mengapa anak-anak dengan daya tahan tubuh kuat harus menyalakan kipas angin sepagi ini, membuat perutku mulas saja. Dulu, ketika kulihat barometer termometer ruangan sampai di angka 40˚ C, tepat disaat matahari diatas ubun-ubun, dan aku tak kuasa menahan rasa laparku, aku merutuki orang yang menyusun jadwal mata pelajaran yang menjadwalkan Kimia di jam terakhir. Mengipasi diriku dengan buku setebal 300 halaman, berkali-kali melirik jam tangan untuk melihat sisa menit yang harus kuhabiskan. Namun sekarang, aku tak kuasa untuk tidak menggosokkan kedua telapak tanganku ke pipi setiap satu menit sekali, bertahan didalam ruangan dan enggan keluar untuk pulang. Menggigil setidaknya tiga kali dalam lima menit yang menyiksa. Dan terus menerus mendesah menahan mulas. Aku kedinginan, oke?

Yang lebih mengkhawatirkan adalah, betapa menakutkannya melihatku mengantuk terus. Menguap begitu sering sampai aku ngeri membayangkan berapa ribu jaringan otot pipiku yang mungkin saja bisa terluka akibat gerakan ekstrim ini. Hei, aku ini dapat bertahan hidup dengan tidur hanya 2 jam sehari. Aku betah terjaga semalaman, menonton daftar film yang menumpuk di laciku, atau membaca novel yang tersusun rapi di lemariku. Terjaga hingga dini hari. Tertidur setelah sholat subuh, kemudian bangun satu-dua jam kemudian. Melewatkan aktivitas tak penting sepanjang hari tanpa makna—tak ada satu pun yang masuk dalam otakku, asal tahu saja, semua lewat begitu saja—kemudian terjaga sepanjang malam dan tertidur di waktu yang sama seperti pagi sebelumnya. Hei, aku ini bicara apa sih, yang ingin kukatakan adalah, aku paling betah tidak tidur seharian, dan sekarang ketika aku mulai mengantuk terus aku mulai bertanya-tanya apa ada yang salah dengan diriku?

Oke, biasanya, sepulang sekolah, aku akan kepayahan, kelaparan, dan stres luar biasa jadi aku menghabiskan separuh sisa siangku—dan sore—untuk membaca novel. Biasanya aku akan menyelesaikan novel-novel itu hingga maghrib lalu belajar, dan tengah malam mulai membaca lagi hingga dini hari (lihat, aku bahkan tak punya waktu untuk tidur). Tapi, tidak-biasanya, aku meletakkan tasku, ganti baju, makan siang lalu menjamah novel dan langsung ketiduran pada menit pertama. Padahal yang kulakukan hanya mengambil novel, merebahkan diri di kasur, bergelung dalam selimut (well, benar-benar dingin bagiku), membuka halaman pertama, membaca dua kalimat, dan uh.. kantuk yang amat sangat langsung menyerangku tanpa ampun, demi Tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Oh, ini bahkan semakin menyedihkan. Aku terbangun ketika adzan maghrib berkumandang. Mengambil air wudhlu, sholat, makan malam, dan tanpa mandi—cuacanya dingin sekali, aku takut membeku di kamar mandi—kembali ke kamar tidur. Mencoba untuk belajar, tapi aku tidak berminat belajar sama sekali akhir-akhir ini—ugh, seperti aku pernah minat saja—dan yang kulakukan hanya rebahan sebentar. Menunggu hingga moodku membaik sebelum meraih buku—biasanya ini berhasil. Tapi, uh, lagi-lagi.. aku ketiduran. Aku bukannya tidak sadar bagaimana bisa jatuh tertidur. Rasa kantuk itu datang begitu saja, membuat kelopak mataku mengkhianatiku. Berat, berat, semakin berat untuk kutanggung sendiri, meski aku berteriak dalam hati agar ia tidak menyerah, tapi toh mataku tidak menurutiku dan ia terpejam begitu saja. Aku kalah..


Aku dikalahkan hujan

Aku dikalahkan oleh hatiku sendiri yang terlalu lemah

Aku dikalahkan rasa manjaku yang berlebihan

Suasana muram ini membosankan sekali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar